Akhir cerita 2017

365 hari telah berlalu –hampir, aku menulis ini pada pukul 1.48 wib-. Aku hanya bisa mengucap puji dan syukur pada Allah atas semua yang telah dia berikan padaku selama setahun ini, bahkan sepanjang hidupku.
Tahun ini aku tidak banyak menulis di blog, aku juga tidak banyak jalan-jalan. aku hanya berkeliaran di sekitar sini aja. Binjai Medan Medan Binjai. Walau kadang aku ke luar kota juga, tapi jarang.
Tahun ini banyak yang berubah. Uniku sudah menikah. Aku dapat banyak pengalaman hidup. Hatiku dipenuhi rasa syukur dan bahagia. Aku juga mengetahui rasanya gagal berkali-kali ditahun ini. Tak masalah bagiku, mungkin Allah sedang mempersiapkan hal yang terbaik yang khusus untukku saja.
Aku juga tidak banyak menggambar tahun ini.

Tahun 2018 apa yang aku harapkan tidak muluk-muluk.

Aku berharap keluargaku masih lengkap, kalau bertambah malah makin bagus. Kami sekeluarga diberikan kesehatan, dilimpahkan berkah dari Allah, rezeki yang halal terus mengalir, tesis ku kelar dengan sempurna, aku mendapatkan pekerjaan yang aku impikan, banyak orang yang aku dapat bantu, aku bisa menulis minimal 3 jurnal tahun depan, aku dapat membahagiakan ibu dan ayah, nikmat iman dan islam masih diberikan, aku di undang Allah tanah sucinya, dan terakhir, aku ingin bertemu KAMU. Amiiiin.
Aku juga masih ingin berteman dan menjalin hubungan yang hangat dengan teman-temanku. Aku merasa ini akan sulit pada awalnya karena beberapa dari mereka telah menemukan jalan hidupnya dan pekerjaan yang mereka impikan. Aku bahagia untuk mereka, walau di sisi lain aku sedih karena mereka akan sibuk dengan hidup baru mereka. Tapi aku yakin kami masih dapat tertawa dan menangis bersama.
 Aku mungkin tahun depan akan lebih sering motret. Atau akan lebih sering keluar rumah. Selama 3-4 bulan pertama mungkin aku akan nge-rumah di perpus besar demi tesisku karena aku tidak terlalu ingin membebani ayah ibu dengan pengeluaran untuk beli buku.
Aku juga mungkin tidak akan terlalu bisa membantu kakakku mengurus anak-anaknya, aku akan sedih sih karena Khalila dan Zayn sekarang selalu bisa menghibur hatiku yang kadang suka sedih, malah aku yang sering mengganggu mereka.
Aku juga ingin menikmati masa-masa menjadi the only one anak gadis ayah dan ibu. Aku tahu mereka akan lebih rajin menyuruhku membuka hati untuk pria –pria di lluar sana dan akan memperhatikan teman-teman yang singgah ke rumah. Hahaha. Aku lucu sendiri saat menulis ini.
Aku ingin juga merealisasikan rencanaku. Aku sudah cerita ini ke dita diba mimi, semoga Allah berkenan untuk mengabulkannya, karena aku tahu bagaimana kemampuan dan keinginanku.
Untuk Indonesia, aku ingin berbakti dan membuatmu bangga tapi dengan caaraku sendiri.
Aku akan menunggu sahabat-sahabatku pulang merantau dan menghabiskan waktu lebaran bersama mereka .
Itu saja yang aku harapkan. Aku menunggu kejutan-kejutan besar yang telah aku rencanakan bersama ALLAH di tahun 2018 yang telah tertulis di kitab Lauhul Mahfudz. Aku yakin, Allah menyanyangiku  dan akan terus  memberiku kebahagiaan serta menerimaku walaupun aku terus-terusan berbuat salah.

Sekian
Dengan harapan
Ulan


Bye Instagram (?)


Assalamualaikum pembaca. Yang menemukan cerita kali ini, aku yakin adalah orang yang mulai jenuh dengan kehidupan per-sosial media-an, yakan? Hayo ngaku.

7 November 2017 adalah hari terberat –agak- dihidup aku. Ya, aku kecanduan instagram,, facebook, twitter serta youtube. Yang paling sering aku buka adalah instagram dan youtube. dan di tanggal ini, aku menutup –sementara- akun instagram.
Apa yang aku lihat di instagram dan sosmed lainnya? Macam-macam. Orang pamer, orang yang menggila, orang yang marah-marah, orang yang alim, jualanan, nasehat dan banyak lagi. Aku hanya melihat historigram dan postingan, sesekali aku juga mengupload fotoku dan berusaha memakai caption yang lucu, kadang maksa lucu.
Aku teringat seorang teman waktu jalan-jalan ke Jakarta dulu cerita, kalau calon suaminya menegur karena dia terlalu banyak posting historigram maupun foto di instagram, karena saat itu memang dia dalam satu waktu beberapa kali mengupload, dan calon suami takut kalau itu adalah sebuah riya, bagus sih menurut aku, self reminder gitu jadinya. Dia cerita sih, gak curhat, tapi meminta pendapat. Saat itu kami sedang menikmati hidup dengan bermain, bertemu teman yang tinggal disini, jalan-jalan melihat kebudayaan, jadi suatu hal yang wajar aku rasa untuk kami –bukan orang Jakarta- untuk memberi kabar ke teman bahwa ‘kami sudah kesini loh, kami ketemu disini, ayo main kesini’, begitu.
Aku yang saat itu berkata, “iya memang kita riya. Kita memang pamer kita berada dimana, sama siapa, ngapain aja kan memang mau ngasih tau ke orang-orang apa yang kita sudah punya. Sosmed memang tempat ajang pamer menurut ulan.”
Jujur, aku juga pamer. Ketika khalila bisa nyanyi, aku posting. Ketika khalila tidur lucu, aku posting. Ketika khalila mengucapkan sayang padaku, aku posting juga. Saat aku sedang bersama temanku jalan ke mall, aku posting lagi, ketika aku mendapatkan makanan enak, aku posting, dapat nilai bagus, posting, dapat nilai jelek, curhat, posting lagi, karoke, nah kubiarkan orang mendengarkan suara merduku, ku posting juga. Semualah aku posting. Sebenarnya niatku adalah menunjukkan ini loh yang buat aku bahagia, ini loh yang aku lakukan, ayo dong beli ini gak nyesallah kelen –promosiin barang maksudku- ini loh yang terbaik bagiku, ini loh kawan-kawan keren aku, jadi aku sebenarnya gak sendiri, aku punya apa yang kelen punya.
Dan aku juga pamer di salah satu akun igku bahwa aku bisa motret bagus dan ngedit video dengan baik, aku berharap yang ini adalah hal baik yang dapat menginspirasi orang.  

Makin kesini, aku jadi makin banyak memikirkan hal.

Ada disuatu saat aku merasa tidak punya teman,dan aku kesepian. Aku memposting di historigram suatu kalimat yang galau, teman sosial mediaku pun bertanya, ‘ada apa?’  dan aku bercerita. Aneh aku rasa. Aku berpikir, ini yang aku inginkan? Mereka bertanya aku menceritakan lalu mereka menghiburku. Dan ternyata, tanpa disadari aku menceritakan ke semua teman-temanku, bahwa aku galau. Hal bodoh ternyata yang aku lakukan karena tidak ada privasi lagi di hidupku ini.
Ada dimana –sering- aku menemukan, ketika aku dan teman sosmedku yang komenan, dman, terlihat akrab  dan saat tak sengaja bertemu, kami tak berbicara satu dengan yang lain. Aku merasa, kok begini? Sejujurnya, aku selalu berusaha menjadi sama antara dunia nyata dan dunia maya, tetapi tidak semua orang seperti itu. Aku sedikit kecewa dengan yang seperti ini. Dan aku ingin menambah teman di dunia nyata. Jadi kalau kamu membaca tulisan ini, ayo kita saling menyapa di dunia nyata.
Ada lagi nih, sosmed membuat aku tahu kehidupan, kadang yang paling pribadi dari seseorang. Aku melihat orang curhat tentang rumah tangganya, pertengkaranya, percintaannya, apa yang dia inginkan dan tidak inginkan. Kadang aku mau bilang, ‘aku gak butuh tau itu’ tapi pada kenyataanya dia tidak minta aku lihat, tapi aku yang melihatnya. Aku menemukan kebodohanku selanjutnya.
Dan kadang lagi, ternyata sebuah postingan dapat diartikan berbeda oleh beberapa orang dan memicu alasan untuk bertengkar. Aku merasa pernah mengalami ini.

Apalagi ya, aku pikir sebentar.
.
.
.
Aku sadar kalau aku terlalu banyak –bahasa kerennya to much (apasih, gak penting)- mengumbar kehidupanku ketika teman baikku berkata ‘ntah apa aja yang ulan share di historigram, banyak kali’, gitulah kira-kira bahasanya, dan disana aku merasa ternyata ada juga yang terganggu dengan postinganku, seperti aku yang terganggu dengan postingan temanku. Teman baikku yang lain malah berkata ketika aku cerita hal ini‘ngapain sih lan ngedengerin apa kata orang lain, do what you want ajalah’.
Dan lagi, waktu yang kuhabiskan terlalu banyak di sosial media. Aku merasa sosial media adalah sumber info tercepat dibandingkan Koran online manapun. Misalnya, macet, aku tau di wilayah mana yang macet ketika temanku ngeposting.

Banyak baiknya juga sih sosial media ini.

Nah, kenapa  sempat menutup sementara instagram? Karena aku jenuh dengan melihat hidup orang lain. Tapi aku masih pakai facebook dan twitter dimasa ini. Kenapa? Facebook karena aku ada urusan dengan beberapa orang yang hanya bisa di hubungi dari facebook, dan twitter, karena aku saat itu sedang mengikuti cpns (yang gagal perkara kurang 3 point, Alhamdulillah, ini yang terbaik dari Allah, Insyaallah Allah akan menggantinya dengan yang sangat dan lebih baik dari yang aku harapkan, amiiiin) memerlukan informasi dari salah satu akun resmi pemerintah.
Aku senang menjalani hidup tanpa instagram saat itu (sekarang ulan udah aktif lagi) aku lebih banyak berbicara dengan orang sekitarku. Aku lebih banyak baca artikel, aku jadi lebih tenang belajar untuk cpns kemarin. Sebenarnya bisa juga sih dengan mengaktifkan instagram, tapi aku tau batas dan kemampuanku. Aku tau bahwa dengan instagram aku aktifkan, aku tidak bisa mengatur waktu untuk belajar.
Aku juga menemukan teman-temanku ternyata kehilangan aku. Aku akan capslock, KEHILANGAN. Aku kan tadi sempat bilang, aku kesepian. Aku merasa pertemananku dengan orang-orang adalah semu. Dan aku merasa bahagia ketika teman baikku mengkhawatirkan keadaanku karena dia tidak menemukanku di instagram. Ketika teman baikku mengechat pribadi ke aku bertanya kabar , bukan mengetag namaku dari foto postingannya. Aku bahagia ternyata ada yang khawatir aku block ignya karena aku merasa mereka ingin menjadi temanku (maaf we, kalau memang tidak mengganggu hidupku, aku tidak mengeblock orang sembarangan, apalagi orang yang pernah tertawa bersamaku) . Ternyata yang akuinginkan adalah perhatian yang tidak usah di umbar. Yah, dengan hal sederhana ini aku bahagia.

Tapi, ada baik ada buruknya juga yakan. Aku saat menutup instagram tidak tahu berita yang lagi hits sekarang. Kebanyakan gossip artis sih. Tapi berita lain yang viral aku pun tidak tahu.

Ini yang mengejutkan bagiku. Aku pernah mengira, jaman now semua orang yang paham menggunakan gadget pasti punya sosial media untuk posting dan bercerita apa yang dilakukannya. Ternyata, masih ada orang yang tidak punya sosmed berlebih. Aku dulu tidak paham, di jaman sekarang orang yang gak pamer tentang hidupnya ada, ternyata  ADA dan lebih dari satu orang. Pertama adalah si abang yang sering duduk satu meja denganku saat kuliah, dan satu lagi adalah si abang calon hakim dikelasku. Mereka mungkin memang sudah punya akun, tapi mereka tidak mempergunakannya seperti banyak orang menggunakannya. Aku sih salut dengan mereka yang tidak terkontaminasi pemikiran ‘semua harus tahu hidupku’.
 Itulah, aku akan berusaha mengurangi pemakaian sosmed berlebih,karena, sesuatu yang indah dan menyenangkan hati ingin aku simpan sendiri (dan dia, kalau ada) dan tak ingin ku bagi dengan siapapun. Sihiiii. Aku akan berusaha hanya  share 1/10 dari hidupku (walaupun pada kenyataannya aku akan share 8/10). Bukannya itu sudah cukup untukmu teman mengetahui kabarku hari ini?

Sekian. Ambil yang baiknya, lupakan yang buruknya dari tulisan ini, please.
Wassalamualaikum.
Binjai, 8 Desember 2017


Opini : Anak SD PACARAN???

Assalamualaikum
Pertama-tama, setelah akuh baca-baca lagi isi blog ini, ternyata tema dari blog ini adalah slice of life yg absurd gitu ya, bagus juga sih ini dibaca bagi para orang-orang yang suka tema ke-absurd-tan hidup. Btw, tulisan kali ini, Ulan akan membahasakan diri ulan dengan ‘aku’. Karena, setelah –lagi-lagi- dibaca, aneh ternyata membahasakan diri dengan nama panggilan di tulisan. Jadi mulai hari ini, setiap tulisan owe akan memakai ‘aku’ sebagai kata ganti orang pertama. –yaampun… diganti setelah bertahun-tahun. Dan ini, tulisan terpanjang ulan selama ngeblog. Semoga gak bosan dan bisa mengambil hal yang baik dari tulisan ini.

Oke, langsung ke opini ya.

Pagi-pagi ini ulan buka facebook, nah sepupu kecilkuh –sidqy namanya- ngetag teman-temannya. Nah, kan kalau kita berteman sama siapa gitu, ntar kadang komentar atau like nya masuk di beranda kita, jadi terlihatlah aku sama teman-temannya si sidqy ini yang udah pacaran. Adikku ini umurnya masih sebelas tahun, jadi ya teman-teman dia range umurnya 10-13 tahunanlah ya.
Ingatanku langsung kembali ke jaman-jaman SD, aku mengingat apakah di jaman itu aku juga sudah mulai suka-sukaan sama lawan jenis atau ngak? Dan jawabannya aku pernah. Ketawa sendiri sambil nyuci piring di dapur.
Aku juga, beberapa kali lihat artikel-artikel yang seperti mengecam anak-anak SD,SMP berpacaran. Mereka –netizen- berkata “belum pantas” ataupun “tua sebelum waktunya”. Malah bagiku itu normal saja. Bukan karena aku juga cinta monyetan di masa mereka juga, tapi ya kalau kamu dulu belajar biologi disekolah, itu adalah hal yang wajar. Hormon mereka berkembang, pemikiran mereka juga berkembang, mereka ingin tahu ini itu,rasa suka itu gak bisa dipaksakan, dia datang tiba-tiba.  Melihat lawan jenis yang rupawan, pintar pulak, sama-sama punya rasa suka yang sama, wajarlah kurasa mereka suka-sukaan.
Ini bukan terjadi hanya di Binjai, ataupun di Indonesia saja. Di bumi belahan manapun, kurasa hal ini terjadi. Sok tau ulan? Gini aja, coba lihat komik-komik Jepang misalnya saja komik hai miiko, yukko dan kenta sudah pacaran dari kelas lima SD, bagaimana dengan doraemon, nobita sudah suka dengan shizuka di umur SD. Kamu nonton film keluaran dari Amerika maupun Eropa tentang petualangan yang pemainnya anak kecil, biasanya ada tuh anak kecil yang saling suka-sukaan juga. Nonton drama korea yang sahabatan dari kecil, ternyata udah salah satunya sudah suka dari kecil sama temannya ini, terus ketika remaja mereka menyatakannya. Itulah hidup saudara-saudara. Hal ini wajar.
Kalau kamu masuk dibagian yang ‘mengecam’, coba kamu ingat-ingat dulu, kamu mulai punya rasa yang lebih ke lawan jenis itu kapan? Dari TK? Yaudah, kenapa malah aneh lihat anak kecil pacaran. Itu hanya perasaan kamu yang sudah merasa lebih dewasa, lebih besar dari mereka, makanya kamu sudah melupakan apa yang sudah kamu rasakan dulu dan menganggap umur kamu yang sekarang itulah yang pantas, bukan umur mereka.
Sekarang yang kulihat, mereka –netizen- yang mengecam tidak senang dengan tingkah anak-anak itu yang ngeposting tulisan-tulisan bak orang dewasa yang sedang kasmaran, atau memamerkan kontak fisik mereka di sosial media.
Kita flashback yuk. Coba ingat-ingat dimasa kamu dulu, kamu melakukannya juga kah? Misalnya menulis di meja kelas kamu pakai tipe-x nama orang yang kamu suka dengan lambang hati? Atau menuliskan namanya di dinding jembatan di dekat rumah pakai pilok? Atau menunggu dia dan memberikan surat di parkiran sepeda –kalau gak berani ketemu langsung, ngirim surat dan diletakkan di laci mejanya? Atau sengaja datang pagi-pagi cuma untuk menulis di papan tulis nama dia? Atau menuliskan perasaanmu di diary yang ada mikes makesnya dulu? Atau saat kamu ulangtahun ada seseorang yang menjadi sorotan teman-temanmu dan kamu di ‘ciee ciee-in’? Jadi apa bedanya? Bedanya saat itu belum ada sosial media dan yang mengetahui hal itu hanya kamu, dia, teman-teman satu sekolah, dan guru di sekolah. Ngomong-ngomong, masa ini menyenangkan ya.
Kok serasa ulan pro ya ke anak-anak SD SMP pacaran? Oh, tulisan ini belum selesai , teman.
            Apakah aku yang sudah jadi orang dewasa, gak geli ngeliat mereka –anak-anak SD SMP- mengumbar kemesraanya? Geli lah. Mengingat masa lalu yang seperti mereka ini pun ulan dah malu sendiri. “Kok bisa dulu aku begitu” pikirku kan.
            Aku juga sering ngeliat, ibu-ibu muda jaman sekarang yang kebetulan masa gadisnya aku sudah mulai punya ingatan, ibu-ibu menegur dan ngatai anak-anak yang mulai suka-sukaan, hai ibu-ibu muda, aku pernah mergokin kamu pacaran loh. Hahahahaa.

Masalahnya dari pacaran.

            Semenjak aku sudah remaja menuju dewasa, banyak kejadian yang di alami orang lain yang menjadi pelajaran untukku. Misalnya, ada teman yang married by accident, ya itu, mereka menikah karena si cewek hamil deluan (dalam opini ini, bukan karena kejadian criminal seperti pemerkosaan, kembali ke judul yaitu pacaran), apalagi salah satu atau keduanya di umur wajib sekolah. Aku sih yang saat itu masih sekolah juga, membuat bentuk pemikiran bahwa hal itu tidak baik. Aku berpikir hal yang sederhana, hal itu akan mengecewakan orangtuaku, membuat malu nama keluargaku, kehidupan sosialku akan terus bergeming suara dari orang sekitar ‘aku kotor’, akan menghancurkan cita-citaku, dan masa depanku hanya akan menjadi ‘ibu’ ataupun ‘ayah’ dengan masa lalu yang kelam. Apa yang mau aku contohin nanti ke keturunanku kelak? Sedangkan seorang ibu adalah sekolah pertama untuk anaknya kan? Seorang ayah adalah pelindung untuk anaknya kelak dari jahatnya dunia?
            Yang di permasalahkan masyarakat, yang notabennya sekarang berumur dewasa adalah gaya pacarannya. Lihat sajalah anak-anak itu mengumbar foto-foto mesra layaknya orang dewasa, memamerkan lekuk bentuk dadanya, memamerkan kontak fisik yang mereka lakukan, misalnya ciuman, pelukan, memberikan komentar dengan bahasa dewasa maupun bahasa yang tidak pantas dituliskan. Hal itu salah. Wahai adik-adik yang kepo dengan tulisan kak ulan, ingat, hal ini salah! Kalian jangan melakukannya. Ketika kalian nanti sudah dewasa dan melihat postingan yang kalian kirim, itu akan membuat kalian malu, menyesal dan perasaan tidak enak di hidup kalian.  (ngomong-ngomong anak-anak sekitar rumahku sekarang keren, mereka punya facebook dan sering kepoin sosial media orang lain dan orang-orang dewasa di sekitarnya. Mereka membuatku mengingatkan untuk memposting hal yang baik yang kemudian hari mereka bisa jadikan pelajran hidup).
            Anak-anak kecil itu mengatakan kalau ditegur “emakku kolot, kampungan, gak tau sosial media, gak tau trend jaman sekarang” ya, mereka memang gak tau. Mereka tidak secepat kalian dalam mengikuti perkembangan teknologi, mereka butuh waktu untuk menyusaikan. Bukan karena mereka tidak pintar, tetapi karena memang kemampuan produktif manusia ini ada masanya, kalian juga akan merasakan hal itu –berkurangnya kemapuan produkti- juga kelak.
            Aku juga tidak menyalahkan anak-anak ini. Mereka butuh bimbingan orang dewasa dalam menjalani kehidupan. Tidak bisa di lepaskan begitu saja. Aku? Ya dulu juga pernah kelepasan di sosial media tanpa bimbingan dari orangtua. Tapi, tidak butuh waktu lama aku sadar karena ada kakak-kakakku yang saat itu sudah dewasa ternyata memantauku dari sosial media mereka juga. Mereka mengingatkanku kalau aku terlalu berlebih dalam menggunakan sosial media. Selanjutnya, aku juga melakukan hal yang sama pada adikku, mengingatkan dia bahwa tidak semuanya harus di umbar di sosial media. Jangan terlalu membiarkan dunia mengetahui hidupmu. Begitu. Aduh, jadi ngawur. Oke kembali ke tema.
            Jadi, para orangtua, jangan sampai kelewatan apapun yang dikerjakan anakmu. Pacaran salah memang, tidak ada benarnya. Tapi, Aku yakin pasti dulu kalian juga pacarankan? Merasakan senangnya punya seseorang yang kamu anggap spesial. Kamu deluan merasakan baik-buruknya pacaran itu, aku yakin kamu tahu. Jadikanlah itu pelajaran untuk mendidik anakmu. Arahkanlah dia ke hal yang lebih positif dalam menyalurkan rasa suka pada lawan jenis. Aku bukan mengajari, tidak. Aku belum punya anak saat tulisan ini kubuat,tapi aku hanya miris saja dengan kelakuaan anak-anak SD SMP.
            Dulu aku, saat sedang suka-sukaan sama lawan jenis, aku menuliskannya. Teman-temanku hanya tahu orang yang kusuka, bagaimana perasaanku, hanya aku tuliskan dalam selipan-selipan catatan pelajaranku, sampai halaman belakang buku pelajaranku. Aku tidak terlalu romantis yang menuliskannya di jembatan, pohon atau di pasir putih pinggir pantai. Dan sekarang semua tulisanku menghilang karena buku catatanku sudah ku buang setelah aku tidak melanjutkan jurusanku saat sekolah.
Aku memposting perasaanku juga di facebook (facebook trend masa itu) , hanya untaian kata yang membuatku banyak dapat like dan komen. Membuat sisi sastraku dulu diakui banyak teman, membuatku terkenal di sekolah karena kata-kataku yang manis. Itulah aku dulu. Eh, kok pamer ya.
Sebenarnya Ibu, Bapak, baik yang melahirkan yang merawat yang mendidik, anak-anak itu manusia yang masih polos. Aku akan kasih sedikit cerita, saat aku sedang on the job mengambil gambar anak-anak di beberapa kegiatan, aku sering mendapati mereka mengacungkan jari tengah kepadaku untuk aku ambil gambarnya. Aku kesal, tentu saja karena aku tau arti dari tanda tersebut. Aku Tanya ke mereka dengan perasaan kesal, mereka tahu gak apa arti dari symbol itu, dan mereka menjawab “ini pose keren jaman sekarang kak” dan mereka mengira aku ini gak ngikutin trend pose jaman sekarang. What!!! Dari sini, terlihat kan kalau anak-anak kecil ini gak tau apa-apa tanpa didikan kita orang dewasa.
Anak kecil itu selalu ingin terlihat seperti orang dewasa. Maksudku gini, ketika ponakanku melihatku cantik dengan lipstick, dia akan mencoba memakai lipstick di bibirnya secara diam-diam. Bukan karena dia genit, tapi dia melihat hal itu akan membuatnya membayangkan dirinya cantik seperti aku dimatanya. Kalau aku memarahinya karena coba-coba pakai barang orang dewasa, dia akan menjadi takut tapi tetap penasarankan? Nah, aku yang sudah mulai dewasa ini menjelaskan padanya, pakai lipstick ini akan terlihat cantik bagi aku yang sudah dewasa karena aku sudah tidak punya kecantikan kulit anak kecil lagi. Aku tidak tahu ini berhasil atau ngak, yang pasti ponakanku berkata ‘bearti kalau udah besar kayak ibu ulan, kakak baru boleh pakai lipstick’ kurasa dia mengerti apa yang ku ucapkan bukan?
Nah, langsung tidak langsung, mungkin mereka melihat orang sekitar atau dari sosial media apa yang tengah mereka lakukan sekarang. Misalnya lihat poto swag ala selebgram terkenal dan selebgram mendapatkan like dan uang yang banyak dari postingan itu serta menjadi terkenal, anak kecil melihatnya ‘itu hal yang bagus’ sehingga mereka menirunya. 
Inilah peran dari orang tua, dan kita orang dewasa lainnya yang sebenarnya secara tidak langsung memberikan pengaruh yang buruk tetapi tidak di ketahui anak-anak bahwa hal itu buruk bagi mereka.
Suatu ketika aku membaca peraturan tentang hukuman terhadap anak, yang salah satunya berisi hukuman (kalau gak salah bahasanya) bahwa sang anak dikembalikan ke masyarakat. Kenapa masyarakat? Karena masyarakat (khusunya di lingkungan tempat tinggal sang anak) mempunyai kewajiban juga untuk menjaga anak tersebut karena dianggap masyarakat adalah orang dekat anak tersebut karena mereka mau tidak mau berinteraksi secara langsung pada si anak. Makanya ada istilah, lingkungan mempengaruhi hidup seseorang. Jelaskan! Walau bukan anak kandung, semua anak berhak mendapatkan contoh yang baik dari semua orang dewasa. Jadi kamu orangtua, jangan marah kalau anakmu di tegur sama aku atau orang lain ketika mereka salah atau melakukan hal yang buruk, karena itu kewajiban kami juga, sang orang lain yang sudah dewasa.
Terus, bagi orang tua, aku tidak tahu apakah kamu orang yang taat beragama atau tidak, yang pasti pendidikan agama itu penting. Pendidikan agama bukan hanya mengisi otak, tetapi juga memberikan makan bagi hati dan jiwanya. Ketika apa yang mereka pelajari, mereka memiliki rasa takut, hal ini akan masuk kedalam hatinya lalu kemudian jiwanya akan menolak bila suatu saat mereka ingin melakukan hal yang buruk.
Kemudian, ajarkanlah pada anak bagian-bagian tubuh yang boleh disentuh dan mana tidak boleh disentuh orang lain. Mana bagian tubuh pribadi yang harus dijaga, dan mana bagian tubuh yang harus di sembunyikan. Sekarang tidak susah kok mencari informasinya. Pemerintah sesuai bidang masing-masing sudah membuat lagu yang menyenangkan untuk mendidik hal ini. Tinggal cari di youtube ataupun google, dan kamu tinggal download.
Kemudian, ajarkanlah bahwa masa depan itu penting. Jangan sampai ada hal buruk yang menghancurkan jalannya masa depan sang anak. Kasih tau juga sebab dan akibat dari mereka bila melakukan kontak fisik yang mereka lihat. Jangan tunggu sampai kamu memergoki anak-anakmu melihatnya diam-diam atau telah melakukannya, kasih tau saja saat sedang santai saat kamu teringat.
Dan lagi, dari pengalamanku sendiri, sekarang memang sudah banyak orangtua yang bagaikan sahabat dengan anaknya. Dimana anaknya daripada cerita tentang kehidupan mereka pada temannya, lebih senang menceritakan keluh kesahnya pada orangtuanya. Ini membuat anak terbuka dan merasa diterima. Tapi, ada juga hal-hal seperti itu kadang masih tabu untuk diceritakan pada orangtua, kecuali untuk anak yang sudah dewasa. Karena, mereka merasa bahwa orangtuanya tidak akan mengerti tentang hati mereka, merasa bahwa orangtuanya akan menganggap mereka bagaikan anak kecil terus. Dan kadang, pengakuan kepada anak bahwa mereka sudah tumbuh lebih dewasa akan membuat anak lebih semangat dan lebih menjaga dirinya dari hal-hal buruk diluar sana. Karena, mereka merasa tanggung jawab sudah berada di tangan mereka sendiri. Berat ya PR  orangtua jaman now.

Nah, sekian dululah cerita tentang anak kecil yang pacaran ini. Aku bukan mengajari atau apa gitu, aku hanya ingin mereka menjadi baik, masa depan mereka cerah gembira dan mereka mengetahui bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan di masa depan.

Sekian.


Fyi: Pacar berarti inai, jadi pacaran berarti berinai.

Mencintai diri sendiri

Assalamualaikum

                Ini sebuah cerita singkat yang muncul dari cerita di dalam mobil dengan bang Ipan. Bang Ipan ini kayaknya sering kali ya masuk di cerita ulan? Ialah. Sejak kuliah, bang Ipan sudah ngantar jemput ulan dari Binjai ke Medan. Dulu –sebelum jalan tol Binjai Medan aktif- dalam satu hari ulan berada di dalam mobil rata-rata selama 3 jam perhari bersama bang Ipan. Gak mungkin kami diam-diaman aja kan? Akhirnya kami sering cerita-cerita dan kadang bang Ipan suka nasehatin juga tentang kehidupan.

                Nah, kemarin hari selasa, saat jalan pulang dari bandara KNO ngantar ibu mau pergi perjalanan dinas ke JKT setelah panjang pembicaraan bang Ipan nanya. “apa yang ulan gak suka dari diri –fisik- ulan?”
                Pertanyaannya sepele memang dan tidak butuh waktu lama untuk ulan menjawab, “gak ada.” Bang Ipan nanya kenapa dan menjelaskan badan cewek berisi lebih disukai orang terutama cowok, terus penjelasan saya.
                “Ulan suka dengan semua yang ada di diri ulan. Ulan suka mata ulan yang cipit ini, ulan suka hidung ulan yang gak maksimal dan gak minimalis ini, ulan suka bibir ulan, ulan suka dengan telinga caplang ulan, ulan juga suka tubuh ramping ulan. Terus, ulan tahu memang orang-orang sering bilang ‘gemuk dikit lagi aja ulan, cantik kali’. Nah, ulan pingin jadi gemuk –pingin kali pun, punya badan yang proporsional biar kelihatan enak di pandang orang. Gak di ejek orang kurus lagi. Tapi gimana? Ulan udah berusaha makan banyak, ikutin saran orang makan malam sebelum tidur, olahraga, banyak tidur, minum pil ini itu, minum susu, sampai minum minyak ikan hiu pun ulan pernah. Kurang serem apalagi coba.
                Tapi, mau sekeras apapun ulan berusaha kalau memang ya gini maunya badan ulan, mau buat apa ulan. Bukannya ulan gak berusaha, sampai sekarang pun ulan masih berusaha, tapi dengan cara yang beda. Sekarang Ulan berusaha untuk mencintai diri ulan dengan makan teratur, olahraga, intinya ulan tidak memaksakan diri buat jadi gemuk. Kalau memang udah saatnya gemuk, pasti gemuk juganya ini badan.
                Orang-orang senang berteman dengan ulan bukan karena penampilan fisik ulan bagus, kan? Mereka suka sama ulan ya karena sifat ulan mungkin baik bagi mereka, ulan cocok ngobrol, bergaul, gak jaim sama mereka.  Dan lagi, kalau ada cowok yang suka sama ulan, gimana pun keadaan fisik ulan, ya gini yang dicarinya dan ini tipenya. Pasti dia suka sama ulan karena memang apa yang ada dalam diri ulan.”

                Dalam hati ngomong sok bijak kali owe! Narsis bangeeet ya. Tapi memang begitulah kenyataannya. Ulan pernah di masa terobsesi gemuk, dan ini sejak SMA sampai akhir S1. Terus mikirkan, segini kerasnya buat gemuk –pokoknya merasa udah keras kalilah perjuangan menggemukkan badan bertahun-tahun ini, tapi kok badan ini bandal gak mau gemuk. Mikirin apa kata orang juga gak buat gemuk, yaudahlah, apa adanya aja. Kan orang punya masalah beda beda yakan?
                
                Dan akhirnya, inilah ulan yang sekarang. Tidak terobsesi gemuk lagi. Sekarang saya hanya merawat apa yang sudah di berikan Allah SWT. Wajah yah, rajinlah di bersihkan pakai facial foam, pakai toner sama night cream, Kalau siang pakai daily cream yang ada spf nya, kadang pakaikan masker. Untuk kulit, yah sebulan sempatinlah sekali dua kali di minyakin pakai minyak khusus badan supaya bagus –ulan gak bisa pakai handbody, mandi yang bener supaya gak bau badan, sikat gigi minimal satu hari dua kali kalau banyak makan manis lebihinlah acara sikat giginya. untuk rambut, rajin jugalah dirawat, gak usah ke salon terus, pakai aja apa yang ada di dapur (minyak makan, lidah buaya, jeruk nipis, apa aja yang baik buat rambut). Makanlah yang baik-baik, jangan terlalu sering jajan. pakailah pakaian yang bagus, kadang pakaian menentukan kita menarik atau ngak. Jadi, para pembaca kalau punya masalah yang sama, coba pikirkan dengan cara yang berbeda agar mendapatkan hal yang terbaik untuk diri kita sendiri. 

                Dan satu lagi yang sedang ulan jalankan, berusaha buat positif thinking.


Sekian.