Tampilkan postingan dengan label Ngobrol Serius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngobrol Serius. Tampilkan semua postingan

Periksa Jiwa


Aku kemarin melakukan tes kesehatan jiwa untuk memenuhi surat yang dibutuhkan untuk pemberkasan. Ini kali pertama aku melakukan tes jiwa dan kalipertama aku bertemu dengan dokter jiwa. Apa yang mau kuceritakan adalah soal dalam kertas yang diberikan .

FYI, kamu harus menjawab dengan jujur semua soal yang mereka berikan dan mereka berjanji akan merahasiakan hasil tes ini dengan sumpah dokter. Jadi kalian bisa dengan tenang menjawabnya tanpa takut di judge apapun sama orang lain. Karena ,sesungguhnya mulut manusia ini tak sadar menyakiti orang lain, jadi kamu terkadang perlu tidak mendengarkan apa kata orang

Jadi, Aku merasa bahwa, soal yang mereka berikan aneh, karena aku sama sekali tidak merasakan hal-hal tersebut didiriku. Yup, itu karena saat menjawab soal-soal tersebut aku sedang dalam keadaan jiwa yang Alhamdulillah sehat.

Selalu ku katakan, aku akan mengulang cerita dihari itu di jalan pulang. Jadi aku mengingat-ingat soal yang tadi ku kerjakan. Terus saat mengingat, kepalaku mencari-cari kenalan yang sesuai gejala yang diberikan. Langsung aku bergumam, wah ternyata soal tersebut cocok kalau dia, atau si ini, atau si itu yang jawab. Dan lagi-lagi aku mengulang soalnya dan mendapatkan kesimpulan bahwa bisa jadi mereka tidak merasakan apa yang terjadi di diri mereka karena kadang orang lain yang menyadari perbedaan dalam diri sendiri.

Misalnya gini, waktu jaman aku masih bandal dulu, aku pernah minum wine. Apalah, Cuma wine gak buat mabuk kok kalau dikit aja minum, gitu pikiranku saat itu. Nah, aku kan minumnya malam dan di provinsi lain, tiba di hotel aku sadar aku bertanya terus-terusan sama kakakku pertanyaan yang itu-itu saja, tapi menurutku itu biasa. Esoknya kakakku bilang aku mabuk, ya jelas aku bilang masa aku mabuk, perasaanku enggak kok. Kakakku merasa aku mabuk karena dia tahu aku tidak pernah bertanya berulang-ulang soal yang sama kalau sudah tau jawabannya, kemarin adalah hal yang aneh ku lakukan bertanya terus-terusan.  Nah, aku search lah di google, ternyata, bisa jadi aku mabuk karena tidak butuh bergelas-gelas wine buat mabuk. Segelas aja cukup. Untuk sebagian orang juga pengaruhnya bisa saja berbeda-beda. Bisa jadi hanya dengan segelas mereka mabuk, bisa jadi karena bergelas-gelas baru mereka mabuk. Nah, kalau kakakku gak mengatakannya padaku, bisa jadi aku merasa baik-baik saja dan tidak mabuk, padahal bisa jadi aku mabuk.

Jadi, bagaimana pendapat orang juga kadang harus kita terima dan sadari hal itu terjadi ke diri ini. Apalagi bila lebih dari satu orang yang berkata sama, perlu di curigai. 

Karena aku merasa bukan hal yang tabu jadi biasa saja bagiku bila seseorang pergi berkonsultasi ke dokter jiwa atau ke psikiater, tapi belum tentu orang lain berpikiran hal yang sama. Karena mulut sampah orang-orang ini bisa saja tajam dan menusuk mental seseorang. Padahal, menurut aku, sadar gak sadar kita bertanggung jawab dengan mental orang lain. 

Padahal, menurut aku, bila ada yang sudah tidak wajar kamu rasakan, dan orang-orang berkata ada yang berbeda denganmu dalam hal tidak seperti kamu biasanya, bisa jadi kamu memerlukan bantuan ahli kejiwaan untuk dirimu. Jangan malu. Itu hal yang wajar.

Karena, dari soal yang aku baca, aku menemukan soal tersebut akan mendeteksi kecenderungan diri si yang menjawab. Hal-hal yang ditemukan itu bisa jadi keinginan untuk bunuh diri, menciptakan aliran sesat, menjadi gila, tertekan, depresi, dan sakit lainnya sampai kecenderungan menjadi PSIKOPAT. Dan dengan mereka ke psikolog atau dokter jiwa, bisa jadi mengurangi resiko yang diderita dan secara alami maka kasus kriminal juga bisa jadi berkurang. 

Aku merasa, kayaknya perlu di sosialisasikan bahwa ke dokter jiwa atau ke psikiater itu bukan hal yang memalukan. Membiasakan sedari dini untuk mengobrol dengan orang yang tepat, misalnya murid ngobrol dengan guru BK yang merupakan psikolog sekolah (jangan ditiru pandangan dijamanku dulu, dipanggil guru BK = nakal, bermasalah, bodoh, pembuat onar) . Dan mengedukasi orang untuk hati-hati berbicara dan mengolok-olok orang lain. Karena, hasil mulut orang inilah yang kadang membuat orang lain malas untuk berobat untuk jiwanya. Karena kata-kata sampah yang dikeluarkan orang-orang ini bisa menyebabkan orang lain jadi gila, jadi berpikiran gak lurus.

SO!!!! AYO KITA DUKUNG SIAPAPUN YANG MAU MEMERIKSAKAN JIWANYA AGAR KITA SEMUA SEHAT JASMANI DAN ROHANI

Bukan 13 Reason Why – Mengapa Kamu di Bully


Assalammualaikum readers semua. 

Kemarin (23 September 2018) aku marathon nonton serial netflix “13 Reason Why” . Aku agak terlambat nontonnya, dikala sudah banyak orang orang yang menonton, (terbukti karena serial ini menjadi salah satu yang banyak ditonton).  Tapi, lagi-lagi , tulisan ini bukan tentang synopsis atau ulasan dari film, tapi apa yang aku pikirkan tentang BULLYING.
foto dari google


Saat dan setelah menonton ini, aku mengulang ingatanku kembali dan menyadari beberapa hal .

Pertama, aku bukanlah salah satu manusia di bumi ini yang pernah mengalami bullying sedemikian rupanya sampai aku merasa sendirian dan kesepian, merasa tidak berguna, atau menjadi penyebab masalah  di dunia ini sampai ingin bunuh diri. Jelas aku mensyukuri hal ini. Aku jadi mengulang kembali hidupku selama ini, bagaimana aku diberkahi dengan orang-orang baik di sekitarku, aku  selalu punya teman untuk mengobrol kapanpun aku mau. Aku punya kakak-kakak dan adik yang –walau menyebalkan- membuatku tertawa. Aku mendapatkan cinta yang sudah aku sebutkan di tulisan ini (klik disini).  Atau mungkin, aku pernah mengalami bullying, tapi aku tak menyadarinya dan tetap merasa semua baik-baik saja, siapa tahu.

Yang kedua, aku memutar kembali ingatanku tentang masa laluku –terutama masa sekolah- apakah aku pernah menjadi pelaku bullying? Atau, mungkin aku tidak sadar aku melakukannya? Atau aku membiarkan orang-orang disekitarku melakukan bullying, dan aku tidak peduli?  Terlalu sombong aku rasa bila jawabanku “tenang ulan, kau aman dari melakukan bullying” . Yap, melalui tulisan ini, siapapun yang tahu kalau pemiliki blog ini adalah AKU, aku minta maaf sebesar-besarnya karena aku telah menyakiti hatimu, merusak kepercayaan dirimu, menghilangkan emosimu, atau apapun yang membuatmu merasa buruk, dari lubuk hati paling dalam aku minta maaf.

Yang ketiga, hei… bukankah itu salahmu sendiri kamu di bullying, atau kamu tidak sadar kalau kamu sudah menghancurkan rotasi semesta yang memang sudah pada jalurnya? Aku tidak tahu apakah tulisanku ini benar, tapi ini pendapatku pribadi. Kadang, ada orang tidak sadar kalau mereka telah melakukan sesuatu yang memicu orang lain untuk menganggu dirinya. Mereka menjadikan apa yang mereka telah lakukan untuk menjadi alasan orang-orang mengejek,menganggu,menyiksa mereka. Karena ada pepatah yang bilang, tidak ada asap bila gak ada api, aku rasa bukan api,tapi rasa panas.  Contohnya, seorang temanku dulu di diemin satu kelas karena melakukan nepotisme karena kerabatnya guru dengan mencuci raportnya sehingga dia mendapatkan peringkat tiga besar di kelas. Itu buruk, kau tahu! Karena ada orang yang berjuang belajar keras untuk mendapatkan posisimu! Dan anehnya, entah kenapa satu kelas (baik yang berusaha keras maupun yang tidak) membenci hal itu, tanpa di aba-aba atau tanpa ada provokator, hal itu terjadi, jadi terbukti tindakan mencuci raport itu buruk. Atau contoh lain, kau melakukan suatu tindakan yang tanpa kau sadari sudah membuat kesal orang lain –gawat kalau orang lain itu popular-, dan orang lain itu ingin memberikan pelajaran kepadamu karena kau menganggu hatinya. Itu dendam, sayang. Atau… kamu terkenal karena hasil plagiatmu, dan kemudian semua orang tahu, dan kamu tidak merasa bersalah juga? Itu hukuman namanya,  sayang.

Yang keempat. Aku tahu kalau, ada alasan yang tidak dimengerti kenapa seseorang dikucilkan. Seperti, kamu terlalu cantik (orang ganteng gak pernah di bullying, karena laki-laki tidak seperti itu aku rasa) , atau kamu terlalu pintar dalam pelajaran. Teman dekatku dikucilkan karena dia cantik. Tentu saja yang menjauhinya adalah perempuan yang kemungkinan iri padanya dengan berbagai alasan. Itu mungkin yang disebut, cantik itu dosa. Tenang saja, tidak semua orang cantik itu di bully, tergantung maksudku, tetap baca sampai habis, karena aku sudah mulai memikirkan yang kelima. Kalau pintar, yap, Allah SWT memberikan kelebihan pada beberapa orang untuk menjadi pintar dalam akademik, dan mungkin memberinya cobaan dengan mengurangi kemampuannya dalam bersosialisasi. Mungkin ditempatmu juga ada orang pintar tetapi di bullying, kenapa? Mungkin karena dia sombong bagimu karena tidak memberikan contekan. See.. memang ada hal yang tidak di mengerti kenapa orang di bullying.

Yang kelima. Cara membawa diri. Walaupun kamu cantik, kaya, pintar, tapi kalau kamu tidak pandai bersosialisasi dan menahan diri untuk masuk dan bergabung dengan orang-orang, mungkin kamu akan merasa kesepian dan merasa di kucilkan, lalu kamu menyalahkan semua orang karena kamu menjadi sendiri. Atau kamu selalu menunggu akan adanya teman yang selalu ‘mengajakmu’. Hei, hidup ini perlu feedback. Guru bahasa Indonesiaku pernah tiba-tiba menyuruh kami menulis satu nama teman yang kamu rasa dekat denganmu. Aku menulis nama teman sebangku aku dan diapun demikian sepengakauannya. Penjelasan dari guruku, mungkin ada yang melapor kalau kelas kami mengucilkan seseorang, atau beliau baru menonton atau membaca hal-hal seperti itu, aku tak tahu, beliau berkata kalau perteman itu ada yang beralur satu arah, dua arah, memutar atau malah ada yang tanpa sadar dia popular di teman-temannya. Aku jadi kepikiran dan mulai melacak teman-temanku dan diriku tentu saja. Aku mendapatkan jawaban kalau aku dan teman sebangku aku, dua arah, hanya kami. Sedangkan ada yang berkelompok menganggap si A adalah teman dekat si B, si B merasa teman dekat si C dan si C merasa dia adalah teman dekat si A. Dan, ada yang tanpa sadar, dirinya adalah pusat dari segala keceriaan di kelas itu dimana semua orang akan otomatis sejutu untuk bergabung di acara kalau dia hadir disana (bakat alamiah yang menyenangkan, dan aku kenal salah satu orangnya).

Dan karena aku tahu pertemananku hanya satu arah, dan ini membuat aku jadi,apa ya namanya, terkucil juga mungkin.  Sejujurnya, aku bukanlah orang yang terlalu popular di lingkunganku, tapi Alhamdulillah aku tidak pernah sendiri. Saat pembagian kelompok, aku selalu berharap gurulah yang mengkelompokkan kami, bukan kami yang mencari kelompok. Kenapa? Karena jarang ada yang mau memanggil aku untuk bergabung. Dan itu menjadi beban untukku saat itu, apakah aku dikucilkan? Atau, mereka –teman-temanku, tidak menyukai aku? Apa aku punya salah pada banyak orang? Atau tingkah laku aku menyebalkan? Ternyata tidak!
Buktinya, setiap teman semeja aku tidak hadir dan bangku di sampingku kosong, selalu saja ada yang siap untuk duduk di sebelahku, walau hanya untuk bercerita denganku (bukan menyontek, karena aku bukan orang yang tepat untuk menyontek). 
Jadi, kenapa aku tidak popular untuk dijadikan teman sekelompok?  Aku mencari tahu sendiri dengan bertanya random pada teman sekelasku. Aku mendekati beberapa orang dan menyelundupkan pertanyaan “nanti kalau pelajaran xxx buat kelompok, kamu sama siapa” . Nah, dari sini aku tahu hal yang mengejutkan tentang diriku, yaitu… Aku bukan orang yang dipilih tetapi AKU ADALAH YANG MEMILIH!. Maksudku, ada beberapa orang yang berharap-sepertinya- untuk aku minta bergabung di kelompokku. Memang, ada orang yang sudah dekat dengan teman mereka dan kalau ada kelompok, daripada susah mencari, yaudah sekelompok sama mereka saja, dan kalau AKU meminta mereka sekelompok denganku, mereka bisa saja pindah ke kelompokku. Seperti itu, dan aku melakukannya!

Dari sini aku sadar, bahwa tidak selamanya harus aku yang diajak pergi, karena aku bukan magnet yang bisa menarik orang untuk dekat denganku . Mungkin karena auramu yang tanpa kau sadari membuat orang segan padamu, atau merasa canggung berada di dekatmu, maka karena itu kamu harus mencairkan suasana yang memang bawaan lahirmu.


Jadi, yang mau aku gambarkan adalah, kenapa kamu di bully itu mungkin berasal dari dirimu sendiri. Dan sering kali, orang yang merasa di bully mengatakan itu salah dari seseorang menyebabkan dia di bully.
Jangan terlalu menyalahkan orang lain atas sesuatu yang menimpa kamu. Coba cari cara dan penyebab kenapa kamu seperti ini. Berbicara dengan orang lain itu terkadang baik menurutku, karena kalau beruntung kamu akan mendapatkan solusi dari masalahmu. Jangan menolak atau mencari-cari alasan yang membenarkan tingkah laku burukmu atau tingkah lakumu yang tidak dapat di terima banyak orang lain (misalnya kamu maniac komik, atau kartun –inisih aku, atau kadang kamu punya pendapat yang berbeda tentang sesuatu hal dari orang kebanyakan –aku lagi ini.). Terima saja kenyataan dan lakukan perubahan kecil. Coba mulai menyapa orang dengan senyum and say ‘hi’ pada temanmu. Atau mulailah mengulurkan tangan, ajak seseorang untuk kekantin bersamamu.  Tindakan kecil seperti itu, mungkin akan melepaskanmu dari kesepianmu selama ini.

Kalau kamu merasa u are victim, Keep strong, keep on fire and keep do something good!

Love

Ulan

Toleransi

Assalammualaikum. Aku sepertinya harus merubah kebiasaan ngenote apa yang mau ku tulis di dalam otak, karena tidak akan bertahan lama ingatan di otakku. Hahaha. Alhasil, ku tak menulis-nulis blog berapa waktu ini. Ah, sudahlah. Bukan itu yang mau ku ceritakan hari ini.

Aku mau cerita tentang apa yang ku pelajari baru-baru ini di hidupku. TOLERANSI. Aku tidak mengurung toleransi hanya dalam kapasitas agama saja, ternyata toleransi itu bisa dalam berpolitik.
Tulisan ini tercipta dari kejadian yang aku alami. Jadi begini,aku diminta untuk jadi enumerator dalam suatu penelitian berkelompok dengan cowok-cowok teman kuliah magisterku. Jadi, karena harus pergi bersama dan didalam perjalanan mau tak mau harus mengobrol akhirnya segala macam kami obrolkan, sampai dalam pilihan presiden nanti. Apakah masuk tim #gantipresiden2019 atau di tim #salam2periode . Yang pasti aku di salah satu tim itu.
Nah, di kendaraan hanya aku sendiri yang berbeda tim dari yang lain, dan setelah mengetahui timku berbeda teman-temanku mulai merecokiku dengan istilah hewan kecil (tak lain adalah panggilan untuk pendukung timku dari tim mereka) dan bercerita padaku tentang bagaimana tidak berkompetennya pilihanku, menurut mereka.

Aku tidak terganggu, sumpah. Aku sadar aku tidak terganggu karena hatiku tak merasakan apapun saat aku mendengar pembicaraan di dalam mobil tentang pilihan mereka (sebelum mereka tahu aku tim berbeda). Aku hanya memilih diam dan tak mengubris karena merasa tidak pantas untuk berdebat, karena toh aku pun menyukai pilihanku karena hasil kerja beliau beberapa tahun belakangan ini yang aku rasakan. Dan lagi,aku selalu merasa hak seseorang untuk memilih siapa pun yang maju nanti. Dan aku menyebutkan aku tim yang berbeda dari mereka, agar mereka tidak berghibah tentang kelakuan seseorang tanpa melihatnya langsung.

Nah, kembali ke toleransi.

Bila aku marah, kesal, gondok dan ikut-ikutan untuk berdebat menjelekkan pasangan yang tidak ku pilih, apa gunanya aku sekolah tinggi? Bukankah perdebatan akan mengakibatkan rasa kesal dan berujung pertengkaran. Sudah pasti menurutku akan ada rasa kesal di hati bila kalah berdebat kan? Jadi ngapain dimulai. Ku tak ingin menambah musuh apalagi karena hal yang sepele, padahal tujuannya sama, agar Indonesia punya pemimpin yang baik. Aku pernah melihat ada orang yang berkampanye untuk pasangannya tanpa menjelekkan orang lain, dia hanya bercerita tentang apa yang dirasakannya dan dilihatnya, aku lebih menerima hal itu daripada membesarkan nama orang dengan menjelekkan orang lain.

Aku jadi tahu bagaimana gaya hidup berpolitik teman-temanku. Menurutku, mereka tidak siap dengan perbedaan, mereka tidak siap dengan segala kemudahan informasi yang diterima, tidak siap dengan kekalahan maupun kemenangan yang akan mereka dapatkan. Kok aku bilang begitu? Karena sudah kodratnya lover gonna be love and hater gonna be hate kata si mbak penjahit, seperti when you love someone kan, kamu gak akan mendengarkan apapun kata orang lain tentang your love . kamu hanya akan merasa dia sempurna. Jadi, gaya hidup yang di lakukan temanku tidak menunjukkan kedewasaan. Aku membayangkan, bila mereka menang, mereka akan merasa paling benar dan tidak akan merangkul yang kalah karena merasa sudah benar, mereka akan merasa informasi yang dengan bebas mereka dapatkan tidak dapat membilah-bilah mana informasi dari media sosial yang dapat dipercaya, mereka tidak akan siap untuk mengaku kalah bila mereka kalah.

Sedangkan menurutku, seorang siap untuk berpolitik ketika dia mengetahui hak orang lain untuk mempunyai pendapat yang berbeda dengan mereka dan menghomatinya. Menghormati perbedaan yang dimiliki orang lain dengan tidak menyakiti mereka dengan kata-kata. Tahu bahwa pilihan dia berguna untuk merubah suatu bangsa. Dan itu adalah  kehidupan politik ideal menurutku.

Aku jadi tahu bahwa latar belakang dan pergaulan seseorang mempengaruhi cara pandang mereka. Seperti temanku ini, aku merasa oh mungkin karena latar belakang mereka dulu sekolah agama berasrama, jadi mereka hanya bergaul dengan mereka yang seagama. Sedangkan aku, aku dari kecil bersekolah umum dengan orang-orang dengan latar belakang kehidupan yang berbeda dengan keyakinan yang berbeda, dan itu asyik berteman dengan mereka yang berbeda. Aku terbiasa untuk ngobrol dengan temanku yang berbeda pandangan denganku secara terbuka. Maksudku, kami bercerita mengapa kami memilih keyakinan ini dan mengapa dia memilih keyakinan itu, kita tidak harus mengikuti jalan pikirannya, toh pengalaman hidup dan bagaimana cara setiap orang memandang dunia itu berbeda.
Bukan bearti aku merasa orang yang sekolah agama berasrama tidak tahu toleransi, bukan itu maksudku. Aku malah yakin mereka lebih tahu meaning dari toleransi itu sendiri karena belajar langsung dari Al Qur’an and Hadits, atau langsung dari Alkitab mereka, itu cukup lengkap bagiku untuk mengerti toleransi. Hanya saja, karena mereka terbiasa dengan orang yang sama sudut pandangnya, mereka punya tantangan lebih besar di kehidupan bermasyakarat yang plural begini untuk menerima perbedaan yang ada.

Dari pengalamanku, teman dekatku juga pernah begini karena dia selalu dalam lingkungan sekolah dan kehidupan masyarakat yang homogeny, sehingga ketika di kampus yang penuh dengan berbagai orang, awalnya dia tidak menerima perbedaan, tapi hidup mengharuskan kita berinteraksi dengan mereka yang berbeda dengan kita, akhirnya dia mencoba bergaul dan menerima perbedaan tanpa mengganggu keyakinannya. That is good true story yang pernah ku lihat dengan mataku sendiri.

Nah, aku sudah bilang aku tidak terganggu dengan mereka yang merongrongku dengan berbagai cerita dan video tentang bagaimana tidak berkompetennya timku. Bener memang. Jadi kenapa nulis begini? Karena, aku mau orang yang membaca tulisanku ini, ketika dia gondok, kesal, marah dengan orang yang menjelekkan pilihannya, dia bisa berbesar hati untuk menerima suatu perbedaan dan tidak berlaku negative. Yah, perbedaan adalah suatu masalah bila kamu merasa semua harus sama  dan akan makin runyam bila kamu mengandalkan emosimu, itu akan menjadi cikal bakal perang saudara menurutku. Dan lagi, Aku hanya ingin agar suatu ketika aku membaca tulisanku lagi, aku tahu aku pernah merasa seperti ini dan punya pengalam seperti ini. Ini cukup bagus bagiku untuk pengalaman hidup bahwa orang tidak sama pemikirannya denganku dan aku harus berinteraksi dengan banyak orang untuk mengetahui bagaimana cara mereka bergaul dalam kehidupan sosial. Apalagi latar belakangku ilmu sosial dan melihat dampak suatu proses interaksi dalam kehidupan merupakan hal penting bagi kami untuk dapat memberikan suatu reformulasi menyelesaikan masalah perbedaan. Aku beruntung, Allah SWT memberikan pengalaman langsung dihidupku. Alhamdulillah.
Dan menurutku, mungkin teman-temanku ingin menjaga negara yang kita cintai ini dengan memilih presiden yang menurutnya baik dan dia mengajakku untuk memilih pasangannya dari sudut pandangnya, tapi bagiku yang terbaik bukan pilihannya itu. Hal yang biasa berbeda pilihan, hanya saja tidak perlu sampai terlalu memaksakan kehendak pada orang lain, tidak perlu menjelek-jelekkan pasangan lain, tidak perlu sampai bercerita hal yang hanya di dengar dari orang lain dan dilihat dari potongan-potongan video. Toh, semua orang diberikan kesempatan untuk menilai siapa yang terbaik untuk memimpin negeri ini dengan bebas. Aku hanya percaya bahwa Allah SWT tidak akan mengirimkan pemimpin yang buruk untuk negaraku ini karena masih banyak orang yang berdoa untuk kebaikan Indonesia. Dan lagi, as always kan ya kalau berdoa di pimpin petinggi agama kita mendoakan kebaikan untuk pemimpin kita, makanya Allah SWT itu baik dan akan mengirimkan pemimpin yang amanah sesuai permintaan umatnya, karena kita telah meminta.

Kalau sudah percaya hal itu, kenapa mesti menjelekkan pasangan yang tidak kamu pilih kepada peminatnya?

Salam Sayang
Ulan

Women March 2018 -Menjaga wanita, atau menghancurkan wanita?


Assalamualaikum

Hari ini ulan mau cerita tentang sesuatu bertema “women march” yang beberapa hari ini berkembang di dunia persosial media dan berita online. Lets see …



Di berita sedang santer terdengar kabar model asal Indonesia yang dianiaya oleh pacarnya sendiri. Wah, aku merasa “kok mau dia di aniaya,bukan sekali dua kali ini”. Padahal Cuma pacar, masih orang lain, sudah  berani mukul-mukul. 
Sebelum ini juga sering mendengar hal-hal semacam ini di sekitarku. Perlu diketahui, lingkungan tempat tinggalku (rumah nenekku) rata-rata ekonomi masyarakatnya kelas menengah kebawah,dan mengakibatkan ibu-ibunya juga ikut bekerja.
Ada yang ngadu ke rumah, bertengkar dengan suaminya dan suaminya mukul anaknya. Masalahnya sepele, karena suami gak mau kerja (mereka berjualan), padahal istrinya sudah menyiapkan bahan untuk dagangan.
Ada lagi yang di tinggal pergi suami berbulan-bulan bulan bulan bulan lamanya, herannya kadang balik lagi pulang ke istrinya. Tanpa diberi nafkah lahiriah untuk istri dan anak. Ada lagi yang di tinggal pergi suami, suaminya bermasalah dengan orang, sampai istrinya yang dikejar-kejar preman. Banyak lagi cerita yang hampir semuanya ibu-ibu datang  kerumah mencari solusi masalahnya.
Karena Ibuku orang yang baik sekali, rumahku kadang seperti tempat curahan hati banyak orang. Dulu aku tak suka, tapi sekarang, yaaah.. aku menikmatinya.

Aku kasihan dan bertanya. Kenapa mereka bertahan? Kenapa mereka masih mau menerima si laki-laki? Aku gak habis pikir. Memang aku gak tau dalamnya keluarga mereka bagaimana, tapi apa daya, manusia mahkluk visual,mempercayai apa yang di lihatnya.
Aku bertanya, kok gak pisah saja? Aku tahu menyarankan cerai itu dosa, tapi hidup harus bahagia kan?.
Jawaban mereka, malu jadi janda. Malu di kata-katai orang kalau janda. Dan merasa, manusia pasti berubah. Aku gak habis pikir. Memang kadang lebih sedap terlihat “pria duda cerai” orang tidak akan menganggap itu jelek. Tapi kalau “wanita janda cerai” entah kenapa orang memberikan kesan tidak baik. Kalau aku berpikir, orang pisah pasti ada alasan, tapi itu aku, orang lain belum tentu.
Kalau protes ke pemerintah, mereka sudah membentuk peraturan yang mempuni menurutku. Kamu bisa melaporkan sebagai penganiayaan kalau yang melakukan pacar kamu. Kamu bisa minta pisah ke pengadilan bila tak bahagia. Kamu bisa ngelapor KDRT bila suamimu (bisa juga istrimu) melakukan kekerasan. Tinggal pilih.
Dan kadang orang malu untuk melaporkan pasangannya.
Kenapa malu sih? Oke ulan, kamu gak di posisi mereka (dan semoga Allah tidak membiarkan aku berada di posisi ini) .Setahu aku, semua persidangan yang bersangkut paut dengan “rumah tangga” persidangannya akan tertutup untuk umum, karena itu merupakan aib dari keluarga, dan aku cukup bangga, negaraku berusaha menjamin harga diri masyarakatnya pada kasus-kasus tertentu dan berusaha menjaga rumah tangga rakyatnya.
Dari sini, aku tahu bahwa walaupun orang sadar hukum, tapi sanksi masyarakat lebih menyakitkan untuk di jalani. Jadi,wanita selalu menjadi korban sekaligus pelakunya.
Yah, women march disini bertujuan juga untuk menyadarkan perempuan bahwa kebahagian mereka harus di perjuangkan dan mengubah mindset dari masyarakat bahwa jangan terlalu terpaku pada tradisi (seperti janda itu buruk, dll) dan setiap orang harus bahagia. Setidaknya kita harus berpikir sebelum bicara.

Sesuatu yang aku tangkap dari Women March 2018 di Indonesia.
Women march ini, yah, aku tau pro dan kontra dengan misi-misi yang dibawa. Ngomong-ngomong, women march ini kalau gak salah dulu adalah demo untuk Presiden Trump yang di lakukan banyak wanita di negara perserikatan karena visi misinya (komen kalau aku salah), dan tahun ini hampir di seluruh dunia melakukannya dengan misi feminism.
Aku senang melihat spanduk tentang stop violence for women (and child) , atau sesuatu tentang pendidikan untuk perempuan, menentang pernikahan dini (bukan nikah muda ya) untuk perempuan, sampai keselamatan pekerja perempuan, kalau temanya bulan untuk wanita, melindungi wanita, memperjuangkan hak wanita, ini benar menurutku.



Tapi aku risih dan agak “rancu”  dengan spanduk yang berkata “bukan salah pakaianku, otakmu yang kotor” atau “auratku urusanku” atau “selangkanganku urusanku selangkanganmu urusanmu” . APA INI !!!! mengacaukan tema dari women march menurutku.


Maksudku gini, bila bicara tentang “perempuan” banyak yang menyangkut pautkannya dengan tindakan asusila (contoh pemerkosaan, pencabulan, kdrt etc) dan selalu wanita korbannya (ada juga yang cowok, misalnya kasus saif*l jam*l) . Nah, untuk mencegah tindakan asusila itu, perempuan ada baiknya jangan memancing dengan berpakaian seksi (ketat, terbuka, etc) dan berpakaian sesuai tempatnya. Dan, setahuku, alamiah (sesuatu yang wajar terjadi) kalau pria berpakaian topless dan bercelana pendek, tidak akan ada wanita yang memperkosanya, beda sebaliknya, kalau perempuan topless, kayak lagi lapar ada nasi pakai rendang.

Kalau slogannya berkata “selangkanganku urusanku selangkanganmu urusanmu” atau “selangkanganku bukan urusan negara”, bagiku seperti melegalkan prostitusi. Ibarat satpol pp merazia para pekerja seks, pekerja seksnya bisa bilang “urus aja pedagang kaki lima di trotoar, jangan urus pekerjaan kami, toh pejalan kaki yang salah buat macet di trotoar.” Kok gitu? Gini cuy, kata “selangkangan” orang akan mengartikan kelamin wanita, sesuatu yang dijaga untuk perempuan, tidak di umbar kemana-mana, tidak untuk di perdagangkan. Nah, negara melindunginya dengan “uu perkawinan” “tindak pidana asusila” “sebab yang tidak halal” , sehingga bila ada wanita yang merasa “selangkangan”nya di ganggu, negara memberikan perlindungan hukumnya.
Aku tau ini karena rancangan pasal tentang perzinahan di RKUHP yang mana makna perzinahan di perluas. Btw, aku setuju dengan RKUHP itu.
Atau mungkin maksudnya disini free sex? Bukan tindakan prostitusi tetapi membiarkan orang melakukan sex bebas karena cinta, jadi kalau ada razia kasih sayang mereka minta gak di tangkap, begitu? Kok makin serem. Astagfirullah. Giniloh, kalau lagi “enak”-nya kamu akan merasa hidup bahagia selama-lamanya –kayak Cinderella-, tapi tetiba kamu HAMIL, dan si cowok gak mau bertanggung jawab gimana? Itulah yang mau di hindari oleh negara. Buktinya? Pak Hotman Paris di Instagramnya sering menasehati wanita untuk menghindari buaya darat, bearti sudah banyak kan yang mengalami di tinggal cowok? Nah mereka akhirnya kewalahan dan ngadu minta pertolongan “keadilan” pada Pak Hotman. Ngomong-ngomong, bukan soal mudah minta pengakuan anak yang lahir di luar nikah.

Dan… “auratku urusanmu” ,bahaya ini. Tuhan sudah mengatur aurat dalam kitab sucinya, terus kamu melarang Tuhan atur-atur auratmu? Aku tidak bisa berkata-kata lagi.

Aku mau menegaskan, aku bukan kontra terhadap aksinya, aku kontra dengan spanduk-spanduk yang dibawa oleh pendemo. Bahasanya terlalu "berani" dan tulisannya akan mempengaruhi banyak anak-anak yang masih labil. Aku gak tau kalau di kota besar sekali, tapi di daerahku, kami masih berbicaara dengan sopan, pakaian kami tidak terbuka, yang aku takutkan adalah, anak-anak yang sudah di ajarkan seperti ini ketika melihat spanduk mereka akan berpikir "waah ini keren" dan ujungnya mereka mengikuti itu, karena, kita sekarang tidak bisa mengontrol terlalu dalam persosial mediaan yang bebas di akses semua umur.

Jadi, aku agak sedih liat seperti ada “paham lain" yang menyelundup masuk kedalam feminism. Terakhir aku dengar ada yang minta LGBT di sahkan, oke, mereka meminta LGBT di lindungi karena kekerasan banyak di alami oleh mereka. aku sih, ya wajar aja, mereka kan bukan sesuatu yang normal terlihat dan masyarakat masih aneh melihatnya. dan lagi, dari wawancara televisi yang pernah aku lihat, dan dari artikel ini psikolog mengatakan kaum ini sakit jiwanya (aku gak bilang gila ya). Loh? ulan konta? iya jelas. Kaum Nabi Luth berkali-kali di tuliskan di Al Qur'an dan Allah murka terhadap mereka,yah pastilah aku mendukung Tuhanku, daripada aku kena murka Allah. Dan LGBT itu bukan termasuk paham feminism sejauh yang aku tahu. 


Oke, aku memang bukan orang yang pro feminism, tapi aku tau bahwa visi misi feminism itu baik untuk wanita, bukan malah menghancurkan wanita. (kapan-kapan ada waktu dan kesempatan ulan cerita tentang feminism dan pandanganku).
Begitulah. Semoga, tulisan ini ada manfaatnya untuk banyak orang. Yang pasti untuk banyak wanita. Wanita itu hebat. Negara bisa hebat karena satu wanita, dan negara bisa hancur karena satu wanita, itulah kata pepatah.


Salam

Ulan

Golongan Putih yang menghantui pemilu



Assalammualaikum.

Para pembaca cuap-cuap yang baik budinya ini, kalau baca postingan ulan pasti mengira saya ini adalah orang yang menyukai politik. Benar! Kenapa? Terlepas dari politisi yang tidak bertanggung jawab dengan tugas yang diembannya, pada dasarnya politik memiiliki niat dan maksud yang sangat baik untuk kehidupan banyak orang dan kemajuan Negara.
Oke. Beberapa hari yang lalu, di instastory dan history whatsapp aku membuat ajakan kepada para followers aku untuk bercerita tentang pandangan mereka terhadap golongan putih aka golput. Kenapa aku membuat ajakan tersebut? Selain karena aku beberapa hari yang lalu membaca jurnal yang di tulis kakakku untuk tugas dia sebagai dosen dan dia mengambil tema golput ini sebagai bahannya. Dan lagi, aku juga memperhatikan bahwa memang dibeberapa daerah, tingkat pemilih itu dibawah angka 50% dari jumlah pemilih yang terdaftar. Dan, aku ingin mendengar pendapat mereka-mereka yang pro maupun kontra dengan berbagai macam alasan tentang golput ini.

Untuk membuat tulisan ini,aku membaca beberapa buku sebagai referensi aku menulis ini. Buku tersebut adalah :
1.      Joko. J. Prihatmoko, Mendemokrasikan pemilu  dari system sampai elemen teknis
2.      Dr. Kartini Kartono, Pendidikan Politik sebagai bagian da ri pendidikan orang dewasa
3.      Prof.C.S.T.Kansil SH,  Aku Pemuda Indonesia Pendidikan Politik Generasi Muda
4.      Tataq Chidmad, SH, Kritik Terhadap Pemilihan Langsung. Pustaka Widyatama,
Ini buku-buku ku pinjam secara gratis di perpustakaan USU.
Selain buku, aku juga membaca berita online, jurnal dan aku juga tidak sengaja menemukkan hasil statistic pemilu di perpus. Jadi, tulisan ini akan sedikit banyak mengambil beberapa tulisan dari bahan bacaku ini.
Dan kalau tulisanku gak update dengan undang-undang pemilu yang baru karena ketidaktahuanku, kamu bisa tulis di komen ya.

Ayo mulai!
Oiya, aku harus menjelaskan bahwa biarpun kamu datang ke tps dan sengaja membuat suaramu batal, itu juga namanya golput. Karena yang di hitung adalah suara sah. Suara batal tidak dihitung sebagai suara sah. Begitu saudara-saudara.

Pertanyaannya,
Mengapa orang memilih golput?

Ada beberapa hal yang membuat orang memilih golput, yaitu:
1.      Bagi orang yang mempunyai pendidikan tinggi, pilihan golput di ambil karena mereka tidak mempercayai hasil kerja dari pemerintahan. Mereka merasa tidak ada perubahan yang berarti dari pemerintahan yang berjalan. Setelah itu, calon yang bertarung di pemilihan umum juga tidak menunjukkan kualitas mereka selama kampanye. Sehingga, golput dijadikan sebagai bentuk protes dari mereka kepada partai-partai politik agar mereka mengusung orang-orang yang berkualitas.
2.      Bagi masyarakat biasa, memilih golput karena tidak tahu apa dan siapa yang akan dipilih. Hal ini juga di sebabkan karena kurangnya pendidikan politik. Jadi mereka tidak tahu peran mereka apa dan apa guna mereka di dalam pemilihan umum. Dan merasa, yaudah sama aja, milih gak memilih pemerintahan tetap jalan juga, hidup merekagitu-gitu saja, begitu saudara-saudara.

kenapa golput terjadi?

Dari hasil penyelidikan kecil-kecilanku, hal yang mendasari kenapa golput terjadi adalah kurangnya pengetahuan masyarakat akan peran serta mereka dalam kehidupan bernegara. Mereka tidak tahu bahwa semuanya itu saling berkaitan. Kenapa? Karena sudah ter-mindset bahwa hanya mereka-mereka yang sudah terjun di dunia politik yang merasakan baiknya, sedangkan mereka –biasanya orang kelas menengah kebawah- hidupnya akan begitu saja, tidak ada yang berubah.
Aku mendapati bahwa golongan ekonomi menengah kebawah ini tidak begitu peduli dengan siapa yang memimpin dari pengalamanku yang pernah ku tulis (klik disini).
Jadi, menurut aku, orang sekarang sudah banyak yang gak peduli sih dengan negara. Kalau dibilang individualis, ya memang. Sudah banyak yang tidak peduli lagi dengan politik, dan merasa politik hanya mainan untuk mereka yang mampu saja. Perasaan gak mau di bohongi lagi itu muncul dan memutuskan untuk tidak memilih di pemilihan umum.
Tapi kalau dibilang individualis, orang di Amerika sana yang terlihat individualis malah kalau pemilu sangat ramai. Begitulah yang aku lihat di berita. Jadi, kenapa kita bisa gak ramai?

Apa buruknya bila tidak ikut memilih dalam pemilu?

Apa ya? (kok balik nanya Lan?) .Buruknya itu menurut aku jangka panjang sih. Selain karena kedaulatan rakyat tidak terlaksana, karena, dengan gagalnya sebuah pemillu atau kurangnya ikut serta masyarakat, maka kita tidak dapat mengevaluasi dari hasil kerja pemerintah dan ini akan berakibat besar dengan kehidupan masyarakat, paling penting dari sisi ekonomi.
Begini, dengan pemilu, kita bisa mendepak keluar pemerintah (maksudku pemimpin, wakil rakyat) dari jabatan mereka bila memang hasil kerja mereka tidak baik buat kehidupan bersama. Kita diberi waktu lima tahun untuk merasakan kerja dari pemerintah yang kemarin kita pilih, kalau rasa kita kebijakan yang di buatnya banyak merugikan (misalnya, dengan kebijakan itu dagangan jadi gak laku, atau kebijakannya mengekang banyak kegiatan positif) kita tidak memilih mereka lagi di pemilu selanjutnya.
Jadi,pemimpin yang kita pilih itu sebenarnya berdampak besar dengan kehidupan kita. Dari hal kecil pun, misalnya harga kebutuhan primer, sepele memang tapi itu ada sangkut pautnya dengan pemimpin yang kita pilih. Dengan memilih pemimpin yang kita rasa baik, setidaknya kita tidak membiarkan orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan pemerintahan.
Tidak hanya itu, dengan pemilu kita akan mensortir mana partai yang beneran bekerja dan mana partai yang tidak ada kontribusinya sama sekali untuk negara. Jadi partai yang bekerja akan naik peringkatnya di masyarakat dan itu akan berpengaruh pada kebijakan yang dibuat.
Pentingkan ikut pemilu?

Apa yang harus di lakukan oleh pemerintah untuk menurunkan angka  golput?

Pinjam dari usulnya Prof. Kansil, beliau menyarankan untuk memberikan pendidikan politik sejak dini kepada masyarakat. Bukunya yang aku baca ini keluaran tahun 1980-an dan aku merasa masih relevan. Yang aku tangkap dari tulisan beliau, dengan memberikan pendidikan politik sejak dini kepada masyarakat, maka akan kuat rasa nasionalisme masyarakat dan itu akan berakibat masyarakat akan lebih peduli dengan keadaan negaranya. Dengan kuatnya rasa nasionalisme itu, masyarakat tidak akan mudah terpengaruh dengan pandangan luar.
Nah, intinya yang diperlukan oleh masyarakat adalah pendidikan politik. Setahu aku, pendidikan politik ini diberikan oleh partai politik pada masa kampanye dan KPU hanya memfasilitasi. Aku rasa ini masih sangat kurang. Kenapa? Karena dalam masa kampanye, para calon hanya akan mengiklankan diri mereka agar dipilih, saya begini, saya begitu, bukan memberikan pentingnya masyarakat dalam kehidupan bernegara.
Terus,aku tidak tahu sekarang masih ada atau ngak, saat SMA di pelajaran Pkn aku sempat mendapatkan pendidikan politik, tapi hanya sebatas “pemilu” . bukan pentingnya aku ikut memilih.
Lagian, seperti kataku diatas, bahwa masyarakat sudah cenderung apatis dengan pemerintahan dan akhirnya mereka lebih bersifat individualis. Makin berat deh tugas Pemerintah untuk meningkatkan angka golput.
Oiya, satu lagi. Aku kemarin berselancar di instagram dan masuk ke akun Prof. Mahfud MD. Seperti inilah postingannya.





Aku setuju, dengan demikian mungkin ada sedikit pencerahan agar bukan hanya orang yang beruntung yang akan terpilih, tapi juga baik dalam sisi pendidikan dan kepribadian (test kemampuan akademik itu biasanya berisi inteligensi umum, kebangsaan dan kepribadian).  Jawaban dari Prof Mahfud itu bagus banget ya. Tidak menggurui dan gak menghakimi, beliau pintar tapi masih rendah hati dalam menulis dan gak menyombongkan diri tiap ngomong di public. Em salute…..

Pendapat orang-orang tentang golput?

Aku harus mengatakan lebih dulu bahwa followers aku itu banyakan teman aku yang pendidikannya sama dengan aku (rata-rata) jadi pendapat mereka kebanyakan dari segi pendidikan mereka.
Yang pro dengan golput mengatakan bahwa itu bentuk protes (seperti yang awal sudah aku tulis). Protesnya macam-macam, ada karena parpolnya, calonnya, kebijakannya. Mereka mengharapkan dengan rendahnya tingkat pemilih, maka pemerintah akan peduli dan membentuk suatu kebijakan untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi. Karena aku kontra dengan ini, aku berpikir, apa gunanya demo? Apa gunanya sekarang tekhnologi sudah maju? Kita bisa menulis, memberikan pendapat, jangan negative untuk tidak dibaca siapapun, setidaknya dengan menulis kita sudah ikut menyuarakan pendapat.
Ada juga yang pro dengan golput, yah karena merasa mereka tidak peduli dengan kehidupan negara ini, karena dirasa, hanya mereka-mereka orang penting saja yang bersenang-senang dengan itu.
Yang kontra golput beberapa mengatakan bahwa, pemilu itu penting, karena setidaknya sudah ikut berkontribusi untuk memajukan negaranya. Ada juga yang kontra golput, tapi merasa golput itu memang haknya mereka untuk memilih atau gak memilih sekalipun, gak bisa di paksa. Ada juga yang berpendapat kalau yang golput itu gak mau di bilang salah kalau pemimpin yang di pilih kemudian hari tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Kalau aku?
Kalau pendapat aku? Aku pernah golput saat pemilihan walikota. Disaat aku tidak suka dengan salah satu pasangan. Maksudku, aku suka dengan calon walikotanya tapi gak respect dengan calon wakil walikotanya karena aku mengenalnya secara pribadi, dan aku merasa kalau dia terpilih maka dia akan memberikan keburukan untuk kotaku (dan kemudian calon walikotanya jadi tahanan KPK) . Aku mau kotaku maju saat itu dan berencana memilih salah satu calon yang menurutku masuk dalam standartku (orang baru-bukan petahan karena aku bukan simpatisan petahana-, belum punya track record yang jelek, sepertinya mau bekerja untuk kotaku).
TETAPI!!! Ibuku seorang politisi dan partainya tidak mendukung yang akan aku pilih. Sebenarnya di rumah kami cukup demokrasi dengan tidak memaksakan pilihanku pada anggota dirumah lainnya. Tapi saat itu, aku bertengkar dengan ibuku (entah mengapa beliau mengharuskan aku memilih pilihannya) dan membuatku tidak mau memilih. Yah… sekarang aku menyesalkan aku tidak memilih dulu, dan merasa bukan seorang warga negara yang baik. Karena itulah aku menulis ini. Agar tidak ada yang seperti aku. Menyesal tidak memilih.
Tapi, hanya  kali itu aku golput. Pemilihan yang lainnya, aku selalu dan selalu berpartisipasi.

Nah, bagi kamu pemilih baru, aku mengucapkan SELAMAT bahwa kamu akan menjadi salah satu penyebab untuk maju dan berkembang (atau malah sebaliknya) untuk negara kita ini. Aku sarankan untuk tidak ikut-ikutan dalam money politik, karena suaramu hanya di bayar pada hari itu saja dan selebihnya kamu tidak bisa meminta hakmu pada wakilmu (tentu saja, suaramu sudah di bayarnya loh). Dan tetapkan hatimu untuk tidak goyah memilih (jangan seperti aku, yang karena bertengkar dengan ibu gak mau memilih).
Sekian tulisan dariku ini. Bila ada salah kata tolong dimaafkan dan di perbaiki. Semoga bermanfaat.

Ulan

Kartu cinta untuk Pak Presiden dari Adik Presiden Mahasiswa



Assalamualaikum.

Sudah selesai Aku kira berita kartu kuning dari Bem UI ke Pak Presiden, (atau belum), aku tak tahu karena di sosmed Aku dan beberapa situs online masih memberitakan kartu kuning.
Aku bukan ikut-ikutan, hanya memberikan pandangan sebagai sang dua kali menjadi mahasiswa. Aku terpikir untuk menulis ini karena ibu bertanya pendapatku sebagai sang mahasiswa dua kali, dan kenapa tidak ku tulis saja. Dan, bagi pembaca cuap-cuap yang kebetulan singgah ke sini, bole kok berbeda pendapat atau mau komen juga boleh, karena aku tahu ilmuku tidak begitu luas (makanya aku masih dan akan selalu belajar).
Ada beberapa hal yang menjadi highlight bagiku.
1.      Presiden di undang Universitas Indonesia saat dies natalis. Aku tekankan, DI UNDANG.
2.      Presiden BEM mengacungkan sesuatu yang kemudian hari disebut kartu kuning yang sebelumnya meniup peluit.
3.      Beberapa media online menuliskan ada orasi sebelum acara di mulai dari Mahasiswa.

Oke, aku bahas satu-satu.

1.      Presiden merupakan Undangan dari Universitas.

    Sebagai tamu undangan, tuan rumah harus membuatnya merasa nyaman di acara tersebut.  Apalagi ini acara formal yang berisi orang-orang pintar di bidangnya. Aku yakin, pihak Universitas merasa tidak enak kepada Presiden karena kejadian ini. Bagaikan tamu, udah di undang tapi tidak bisa kita layani dengan baik.
Bukan hanya dosen-dosen dan para guru besar yang harus menjaga nama kampus di acara ini, mahasiswa sebagai bagian terbesar dari Universitas juga harusnya ikut menjada nama baik kampus. Dengan bagaimana? Dengan mengikuti tata tertib dari acara. Yang paling penting, jangan membuat acara sendiri di dalam acara.
Jujur saja, aku kadang iri dengan Universitas Indonesia yang dengan segala kemudahan berada di IbuKota Negara dapat mendatangkan orang-orang penting ke acara mereka, contohnya saja Presiden. Kadang aku ingin kampusku juga di berikan kemudahan untuk orang-orang penting datang, setidaknya kalau Presiden datang, kampusku akan heboh sekali.

Cukup curcolnya. Lanjut ya.

Jadi, sebagai tamu sekaligus merangkap orang paling penting dan kepala Negara di Indonesia, Pak Presiden MEMANG dan HARUS di hargai, di hormati. Siapa lagi yang menghormati Presiden kita kalau bukan kita? Bukannya kita di didik dengan sopan santun khas orang timur? Bukankah kita harus menghormati pemimpin kita? Kalau kita melakukan hal tidak sopan seperti ini, bagaimana kita mau marah kalau orang luar sana melakukan hal yang sama kepada pemimpin kita. Bagaimanapun, selama  Pak Joko menjadi Presiden beliau akan membawa nama Indonesia di setiap langkah kakinya, yaitu namaku juga, nama keluargaku juga, nama kamu juga dan nama Universitas kamu juga. Kalau Aku, bagaimanapun orangnya, siapapun orangnya, apa latar belakangnya, ketika dia menjadi pemimpinku, aku akan menganggapnya imam dan mengikuti perintahnya –asalkan tidak bertentangan dengan kepercayaan dan nilai-nilai yang aku anut. Toh, beliau terpilih secara demokrasi kan ya. Jadi ketika aku mempermalukan Presidenku bearti aku mempermalukan diriku sendiri. Kalau ada yang tidak menghargai Presidenku,artinta  aku juga gak di hargai. Begitu.

2.      Meniup Peluit dan kartu ‘cinta’ kuning.

   Sudah ku katakan di atas, jagalah tata tertib acara apalagi kamu adalah tuan rumahnya. Bagaimana ketika kamu punya acara lalu kemudian panitiamu menganggu acaramu? Kalau aku, kalau halal lah memakan manusia, udah ku makan dia,  syukurlah jadi kanibal haram yakan.
Siapa sih yang senang terjadi keributan diacaranya? Tidak ada aku rasa. Taukan gimana suara peluit? Memekakkan telingga. Ya aku setuju. Dan aku merasa itu adalah hal yang fatal dilakukan mengingat ini bukan acara music, tapi acara formal.
Kartu ‘cinta’ kuning. Kenapa aku kasih kata ‘cinta’ di tengahnya? Karena aku yakin maksud Dik Presiden BEM UI ini baik. Yah, dia care dengan apa yang terjadi dengan saudara kita di Papua sana. Aku mengerti. Bagaimana media saat ini memberitakan tentang salah satu suku di Papua terlihat sangat menyedihkan. Aku tau perasaan itu. Bagaimanapun dia adalah Presiden dari salah satu kampus terbaik di Indonesia, aku rasa wajarlah dia merasa hal ini perlu perhatian khusus. Apalagi kita tahu, apapun yang terjadi di Papua, dunia Internasional selalu meliriknya menjadikan isu yang harus di bahas dan menyangkutkannya dengan hak asasi manusia. Setuju?

Tapi yang tak ku setujui adalah cara Dik Presiden BEM UI ini mencari perhatian. Oke, mungkin dia mau di dengar suaranya mewakili mahasiswa yang diwakilinya dan menurutnya inilah caranya yang memberikan dia sorotan lebih. Dari keterangan yang tersebar di dunia perberitaan, doi ingin memberikan, apa ya namanya… peringatan atau kritik – tentang permasalahan Indonesia, yah yang di tonjolkannya adalah tentang suku Asmat ini –yang terakhir ku dengar kok ada dibahasnya tentang jalan tol?. Yah, udah ku bilang niatnya bagus, tapi caramu dik, tak baik.
Jadi bagaimana menurutku cara yang baik memberikan kritik dan saran untuk pemerintah? Bacalah tulisan ini sampai habis, oke?

3.      Orasi sebelum acara oleh mahasiswa

Apa itu orasi? Langsung berbicara menggunakan suara untuk memberitahukan informasi kepada banyak orang. Yah, kalau kamu melihat demo, ada yang ngomong berpidato dengan sound yang keras, nah yang dilakukannya itu adalah orasi. That’s for your information aja, aku yakin kamu tahulah yakan apa itu orasi.
Jadi, bearti para mahasiswa ini telah menyuarakan pendapatnya, kritikannya, dan keinginannya dengan berorasi di wilayah universitas.
Gini aku mau cerita dulu.
Aku tahu ketika orang penting datang di suatu daerah,( aku mau ngasih gambaran ilustrasi, tpi aku gak tau ini kejadian atau ngak), misalnya saja Medan sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Utara, kita contohkan disini Menteri hukum dan Ham yang datang ke sini. Pernah dengar cerita narapidana yang ada di lapas (lembaga permasyarakatan) Tanjung gusta kabur ramai-ramai dan meresahkan warga, ingat? Nah alasan mereka kabur karena sudah penuh isinya dan mereka tidak nyaman berada disana – hotel kale Lan nyaman-, Nah, orang orang yang berkumpul dari ormas – ormas, atau aktifis yang peduli akan hal itu akan melakukan demo, biasanya di tempat dimana acara yang akan di kunjungi orang penting tersebut. Disana mereka akan berorasi, menyuarakan pendapat, memberi tahukan keinginan dan keresahan mereka.Di dengar atau tidak di dengar oleh menteri tersebut, aku tidak tahu. Tapi yang aku yakinin, dia pasti mendengarnya mungkin melalui staf-stafnya atau dari media massa yang dibacanya. Yang pasti, dia sudah tau keinginan kita.
Begitu juga di UI kemarin. Para mahasiswa itu melakukan orasi untuk di dengar oleh orang penting, dalam kasus ini Pak Presiden. Nah, mereka sudah melakukan hal yang benar menurutku. Demo memang diperbolehkan untuk meyuarakan aspirasi rakyat, -dengan memenuhi prosedur sebelumnya-, mau di dengar tidak di dengar, minimal aksi ini akan masuk  di Koran kampus atau tidak, mungkin akan terdengar di jejaring sosial.
Udah dapatkan maksudku?
Ya,benar. Maksudku bahwa dengan melakukan orasi di sekitaran kampus, itu akan jadi bahan pembicaraan untuk orang yang melihatnya dan akan cepat menyebar menjadi berita dan lambat laun akan terdengar kepada orang yang kita tuju. Jadi, buat apalah Dik Presiden BEM UI menjadi wasit bawa bawa kartu cinta tersebut kalau dia udah menyuarakan pendapatnya.


Nah, Jadi bagaimanalah menurutku cara menyampaikan pendapat yang baik?

Menurut aku, kita mahasiswa memang agent of change, kita dapat membuat perubahan besar. Reformasi di dapat Indonesia dengan pengorbanan dan kerja keras mahasiswa. Dua orang presiden turun karena Mahasiswa. Pendapat mahasiswa di dengar pada forum forum baik nasional maupun internasional. Waah, betapa beruntungnya kita sebagai mahasiswa, bukan? 
Sebagai mahasiswa, aku juga meyakinin kita harus tahu peran serta kita di dalam kehidupan bermasyarakat. Dimana, orang awam akan melihat kita sebagai pribadi yang intelektual, dan orang yang intelektual akan menunjukkannya dengan sikap dan tutur kata. Kenapa? Aku salut kepada dosen-dosenku yang memiliki tutur kata dan nada bicara yang baik, aku jadi tahu bahwa mereka pintar dan semua yang keluar dari mulut mereka adalah ilmu. Kita akan mendapati perbedaan sikap tutur kata dan nada bicara ketika kita ngobrol dengan orang mungkin yang tidak sekolah tinggi, dimana ketika mereka berbicara kita hanya akan mendengarkan masuk kanan keluar kiri karena kita tahu bahwa yang mereka katakan pun mungkin penyampaian dari orang lain yang tidak mereka saring. Itulah perbedaannya.
Jadi,  bagaimana caranya?

1.      Berdemo.
Demo itu legal asalkan kamu mengikuti prosedur sesuai peraturan yang berlaku. Dan demo akan mendapatkan banyaaaak perhatian dari media massa dan tentu saja semua orang yang melihat. Setidaknya mereka akan ingin tahu dan berbicara dengan orang di sekitarnya dan secara berantai berita tersebut akan menjadi viral.
Memang kadang mengecewakan saat demo aku melihat para pendemo tidak dapat bertemu dan berdialog dengan orang pentig yang mereka inginkan berbicara. Yah, setidaknya mereka tahu kalau pendemo datang.

2.      Menulis
Seperti aku sekarang. Aku menulis bagaimana pandanganku tentang suatu hal yang terjadi. Suatu issue yang sedang merebak dan memberikan penjelasan menurut sudut pandangku kepada mereka yang ingin tahu. Yang ku inginkan adalah, ketika ada orang lain yang ingin melakukan hal yang sama dengan Dik Presiden BEM UI dan kebetulan membaca blogku ini, dia akan berpikir ulang dan mencari cara terbaik untuk menyuarakan suaranya.
Sekarang menulis untuk di dengarkan gampang aku rasa, Kamu menulis di situs yang banyak di kunjungi orang –tentu saja dengan baik tulisannya- kalau netizen membaca dan dia setuju, maka tulisanmu akan di retweet atau di share netizen. Daaaan… kamu mengubah sudut pandang orang lain. Syukur syukur kalau tulisanmu di baca oleh orang yang kamu tuju, misalnya saja disini Pak Presiden. –Pak Presiden punya akun sosial media, kalau kamu berani bisa kamu tag si Bapak.

3.      Melakukan Diskusi umum
Maksudku, kamu jika seorang yang aktif berorganisasi –malah lebih baik kurasa- bisa membentuk perkumpulan untuk di diskusikan apa masalah yang sedang di alami, dan bagaimana solusinya. Dari diskusi-diskusi tersebut mencapai kesimpulan yang baik, kamu bisa mengaplikasikannya secara mandiri karena mempunyai massa.
Atau kalau ada kesempatan, ide-ide tersebut di presentasikan kepada lembaga-lembaga yang menanganinya. Itu sangat membantu aku rasa.

Sudah banyak sekali aku nulis.

Yah, setidaknya aku mengkritik memberikan sedikit solusi. Dan sekali lagi, aku tidak menyalahkan apa yang di lakukan Dik Presiden BEM UI. Aku tahu maksudnya baik, hanya saja, setiap tindakan untuk kemajuan akan mengalami pro dan kontra, dan sayangnya untuk tindakannya aku di tim yang kontra.
Aku berharap, Dik Presiden BEM UI akan lebih bijak lagi dalam mengambil keputusan serta memberikan solusi dari masalah dan menggerakkannya untuk Indonesia.

Sekian,
Ulan