Review jujur : Dilan 1990 Novel dan Dilan 1990 Film


Assalamualaikum Pembaca cuap-cuap yang Alhamdulillah masih setia ngebaca tulisan Ulan ini dan halo kamu yang sudah membuka halaman ini di pencarian, selamat membaca review Dilan nya versi Ulan
.
Oke.
Gak ada rencana hari ini aku nonton Dilan bareng Iki. Tdinya aku ke Medan buat minta tanda tangan surat pengesahan dosen pembimbing thesis, dan aku kepagian intinya. Dan aku udah punya wacana nonton kalau gak bareng uni ya bareng Pupud (siapa lagi temanku nonton kecuali dua wanita kece ini yang siap menemaniku). Dan ini film pertama yangulan nonton di bioskop untuk tahun ini. (film-film dan serial-serial udah ada yang selesai ulan nonton tapi streaming)
Siapa sih yang sekarang ini gak familiar dengar nama Dilan –Dilan bukan Ulan, oke!- kayaknya gak di tivi, gak di iklan, gak di sosial media, si Dilan ini terkenal sekali sampai para komikus membuat meme ‘jangan rindu, itu berat kamu gak akan kuat, biar aku saja’. Dan aku dikenali Dilan dari Diba. Yap, diba pernah bilang
Diba: ‘Lan udah baca Dilan,’
ulan ‘belum ba, ada memang liat di gramed kemarin dan si kawan ada posting-posting, bagus ya?’
 diba ‘bagus lan, dibawa ke masa SMA, pokoknya buat kangen cinta cintaan SMA, tapi ini jadul kali’
 ulan ‘ntarlah ulan baca.’
Dan itu kejadianpas jaman s1 dan aku baru baca di tahun 2017 karena heboh Iqbal Cjr meranin Dilan daaaaan semakin hitz nya di semua saluran radio selama perjalananku di hari itu ceritain si Dillan dan Iqbal. Yah, kepo dong aku.

Mulai ya review novelnya.

Ayah Pidi Baiq benar-benar membawa aku ke dunia 1990nya ketika aku membaca novel ini. Aku  dapat membayangkan dengan baik suasana Bandung dan merasakan dinginnya Bandung. Aku selalu menanti-nantikan si Lia bercerita tentang Dilan, bagaimana Dilan menyapanya, bagaimana Dilan memberikan kejutan sederhana tapi romantis, bagaimana si Dilan ngegombal –bukan Milea aja tapi si Mbok juga di goda-  pokoknya si Lia beneran buat kita merasa Dilan itu hanya miliknya seorang.
Aku juga dapat membayangkan bagaimana marahnya Dilan kepada Anhar pas Anhar nampar Milea. Aku juga ikutan geram di buatnya.
Yang aku suka adalah, aku ini orangnya selera tua (aku suka bolu jadul, makanan orangtua kayak biscuit kelapa gitu, style jaman dulu) jadi bagiku romantis sekali hal-hal yang dilakukan Dilan seperti kirim surat ke milea, buat puisi, nelpon ke telpon rumah, Cuma saja si Dilan gak nyanyi pakai gitar ngejreng-ngejreng di jendela kamar Milea. Hahahaha.

Oke, sekarang ke fillm, kok novelnya dikit kali Lan? Karena… aku ingin kamu membaca novelnya juga dan terbawa dalam masa mungkin dimana ibu dan ayahmu masih remaja dulu (ibu dan ayahku 1990 udah punya satu anak dong ya).

Aku udah dengar deluan sih kalau si Iqbal Cjr ini meranin si Dilan sesuai harapan sang Ayah dan sang Sutradara. Jadi, aku focus ke bagaimana si Iqbal acting. Dan … aku melihat Dilan di Iqbal. Walaupun Iqbal kekurusan menurut aku (Iqbal kok ikut-ikutan kurus kayak ulan?) ,, tapi aktingnya oke. Wajah marahnya dapat sekali pas marah-marah di upacara, bentak-bentak di ruang kepala sekolah, marah ke anhar, dapaat kali. Pas romantisnya, mainin matanya, senyumnya, anggukannya, Iqbal juara.

Oke, berhenti ke Iqbal.
Secara umum,, apa yang aku inginkan ada di novel terwujud di film ini. Scenenya juga hampir sesuai dengan di novel,jadi aku seperti melihat novelnya di dalam film . kan kadang adakan film yang kita berharap sesuai dengan novelnya tapi ternyata ngecewain karena di rombak abis, nah di Dilan 1990 ini, kamu dapat apa yang kamu mau (setidaknya aku dapat).

Aku setiap menghayal dari novel ke film itu latar. Sejujurnya aku agak kecewa di latarnya.
Pertama, jalan ke sekolah.Milea bilang kalau jalan ke sekolah yang harus di jalan kaki setelah turun dari angkot adalah jalan yang menurutnya  romantis. Aku tidak melihatnya. Aku hanya melihat rumah-rumah model lama dengan pohon besar di pinggir jalannya. Aku tidak merasa itu jalan yang romantic. Maaf om Fajar.
Kedua. Tampak jelas beda tempat syuting  pagar sekolah dengan halaman sekolah. Mungkin di ambil di tempat yang berbeda. Dan aku rasa kurang enak di pandang.
Ketiga. Aku menginginkan latar Bandung jaman dulu. Mungkin susah kali ya mendapati latar belakang Bandung yang sepi dan 1990-an gitu. Aku memakluminya juga
Daaan keempat, efek computer saat Milea dan Bunda di mobil, aku hanya tampak bangunan rumah, dan taman yang kurang bagus gambarnya. Secara keseluruhan untuk latar hanya di kasih lihat perumahan dengan model bangunan jaman dulu. Hanya itu.

Aku suka penyingkatan scenenya. Seperti acara makan siang bareng wati dan milea bersama Bunda di sngkat hanya di halaman sekolah. Gak dimasukan scene yang banyak antara milea dan Kang Adi seperti saat makan malam dan di ITB. Oia, scene di taman mini Indonesia Indah juga gak ada jadi di ganti di halaman TVRI. Tak masalah sih bagiku, bagus juga, tapi lataranya gak sesuai harapanku. Hahaha.

Oia, scene yang Milea ngaku pacar Dilan di kede mbok eem juga ndak ada, padahal di trailer-trailer ada. (apa ulan yang gak focus ya?)

Peran Vanesha sebagai Milea disini alami banget ya. Bener-bener kayak anak gadis tahun 1990an yang ku lihat di film-film lama. Tapi kekinian lah yakan, dengan makeup santai gak tebal tapi tetap tampak, dan dengan gulungan rambut dibawah, bagus sih menurutku dan akan jadi tren di kalangan kita anak muda gini.

So far, acting semua pemerannya oke punya. Wajah jutek anhar pun dapat, wajah baiknya si beni juga dapat. daaaan ... aku senyum senyum sendiri nih nontonnya. malu-malu sendiri juga. hahahaha

Okeeee….penilaianku untuk film ini 8,5 dari 1-10. Dan aku saranin, untuk nonton. 

Sabtu, 3 Feb 2018

Ulan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar